Senin, 11 Juli 2011

stilistika

KAJIIAN STILISTIKA NOVEL “SAMAN” KARYA AYU UTAMI DAN PEMAKNAANNYA: TINJAUAN SEMIOTIK

A. PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan untaian perasaan dan realita sosial (semua aspek kehidupan manusia) yang telah tersusun baik dan indah dalam bentuk benda konkrit saja. Seperti tulisan tetapi dapat berjuwud tuturan (Speech) yang telah tersusun dengan rapi, sistematis yang dituturkan (diceritakan) oleh tukang cerita yang terkenal dengan karya sastra lisan. Sastra adalah suatu bentuk dari hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia sebagai obyeknya dan segala macam kehidupannya maka ia tidak saja merupakan media untuk menyampaikan ide, teori, atau sistem berpikir manusia. Sebagai karya kreatif sastra harus mampu melahirkan kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia.
Karya sastra membicarakan manusia dengan segala persoalan hidupnya, maka karya sastra dengan manusia memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Sastra merupakan pencerminan dari segi kehidupan manusia yang didalamnya termuat sikap, tingkah laku, pemikiran, pengetahuan, tanggapan, perasaan, imajinasi mengenai manusia itu sendiri. Pengarang berusaha merefleksikan segi- segi kehidupan manusia itu kedalam karya sastra sehingga terciptalah sebuah karya yang menarik untuk diteliti.
Karya sastra merupakan karya imajinatif bermediumkan bahasa yang fungsi estetiknya dominan. Sebagai media ekspresi karya sastra, bahasa sastra dimanfaatkan oleh sastrawan guna menciptakan efek makna tertentu guna mencapai efek estetik. Bahasa sastra sebagai media ekspresi sastrawan dipergunakan untuk memperoleh nilai seni karya sastra, dalam hal ini berhubungan dnegna style ‘gaya bahasa’ sebagai sarana sastra. Dengan demikian, plastis bahasa menjadi kebutuhan dalam bahasa satra agar memiliki fungsi estetik yang dominan.
Novel dalam karya sastra Indonesia merupakan pengolahan masalah masalah sosial masyarakat oleh kaum terpelajar Indonesia sejak tahun 1920-an dan sangat digemari oleh sastrawan. Analisis sastra berfungsi untuk memahami dan menjelaskan maksud maksud cerita yang sebenarnya, serta mengapa cerita itu terjadi. Ada berbagai pendekatan untuk mengkaji karya sastra. Pendekatan tersebut harus sesuai dengan bidang kajian yang dibahas. Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak jadi, secara implicit dari sekedar apa yang diceritakan.selain itu kelebihan novel yang khas adalah kemampuannya menyampaikan masalah yang kompleks secara penuh
Kajian stilistika novel Saman karya Ayu Utami ini mengungkapkan gagasan pengarang, kondisi social budaya, peristiwa dan suasana tertentu yang terekam dalam keunikan stilistikanya. Hasil kajian ini memberikan informasi ilmiah baru dalam dunia kebahasaan dan pemerhati sastra. Karena selam ini kajian dalam novel Saman hanya difokuskan pada segi kebahasaannya dan aspek moral saja belum sampai pengkajan stilitika. Maka dari itu penulis mengkaji novel ini melalui kajian stilistika.
Dalam penceritaannya, novel ini awalnya menggambarkan tentang konflik atau pertikaian yang terjadi pada suatu keadaan di pertambangan minyak bumi antara Rosano yang menjadi kepala pengeboran dan Sihar yang tentu menjadi bawahannya. Sihar membeci Rosano karena kesok tahuan akan hal yang berujung dengan kecelakaan dalam bekerja dan meminta korban nyawa. Sedangkan tokoh utama dalam novel ini adalah Saman. Saman sendiri di gambarkan dalam pencertiaannya sebagai orang yang sangat religius, pekerja keras dan lebih mementingkan kepentingan bersama. Dalam novel ini kiranya banyak juga mengupas tentang hubungan badan di antara tokoh-tokohnya. Ada hal yang membuat laila ingi pergi bersama sihar ke New york. Yahh, di sana karena adat budayanya sedikit berbeda dengan budaya indonesia di mana hubungan badan bila ke dua orang saling suka maka dalam tanda kutip bebas melakukannya tanpa menikah terlebih dahulu.”Barang kali saya sudah letih dengan segala yang menghalangi hubungan kami di indonesia. Capek dengan nilai-nilai yang kadang menjadi teror. Saya ingin pergi dari itu semua, dan memberikan hal-hal yang kami inginkan terjadi. Mendobrak yang selama ini menyekat hubungan saya dengan sihar. Barangkali.” (Hal. 29). Dan dengan menggebu-gebunya, serasa laila ingin sekali bercinta dengan sihar.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah ada, maka permasalahan yang akan dikaji dalan penelitian ini adalah: (1) Bagaimana stilistika novel Saman karya Ayu Utami sebagai sarana sastra yang difokuskan pada gaya kata (diksi), bahasa figurative, gaya kalimat, dan citraan?; (2) Bagaimana makna stilistika novel Saman karya Ayu Utami dengan memanfaatkan teori semiotic?. Kajian stilistika ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan stilistika novel Saman karya Ayu Utami sebagai sarana sastra yang difokuskan pada gaya kata (diksi), bahasa figurative, gaya kalimat, dan citraan. (2) Mengungkapkan makna stilistika novel Saman karya Ayu Utami dengan memanfaatkan teori semiotic.


B. KAJIAN TEORITIS
1. Style ‘Gaya Bahasa’
Style ‘gaya bahasa’ adalah cara mengungkapkan gagasan dan perasaan dengan bahasa khas sesuai dengan kreatifitas, kepribadian dan karakter pengarang untuk mencapai efek tertentu, yakni efek estetik atau efek kepuitisan dan efek penciptaan makna. Gaya bahasa dalam karya satra berhubungan erat dengan ideology dan latar sosiokultural pengarangnya.
Style ‘gaya bahasa’ dalam karya sastra memiliki fungsi meninggikan selera, artinya dapat meningkatkan minat pembaca/ pendengar untuk mengikuti apa yang disampaikan pengarang/ pembicara, mempengaruhi atau meyakinkan pembaca atau pendengar, menciptakan keadaan perasaan hati tertentu, serta memperkuat efek terhadap gagasan, yakni dapat membuat pembaca terkesan oleh gagasan yang disampaikan pengarang dalam karyanya. Pada dasarnya tujuan pemanfaatan style ‘gaya bahasa’ adalah untuk: (1) merespon teks yang dianalisis sebagai sebuah karya sastra, dan (2) mengobservasi bahasa karya sastra tersebut.

2. Novel
Novel sebagai salah satu bentuk cerita rekaan, merupakan sebuah struktur yang kompleks. Oleh karena itu, intuk memahaminya, novel tersebut harus dianalisis (Hill dalam Sugihastuti dan Suharto, 2002: 44). Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detail, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak jadi, secara implicit dari sekedar apa yang diceritakan.selain itu kelebihan novel yang khas adalah kemampuannya menyampaikan masalah yang kompleks secara penuh.

3. Teori Semiotik
Semiotik adalah ilmu yang memepelajari struktur, jenis, tipologi, serta relasi-relasi tanda dalam penggunaannya di dalam masyarakat. Hoed (dalam Nurgiyantoro, 2009:40) menyatakan semiotic adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan dan lain-lain.
Pokok perhatian semiotika adalah tanda. Tanda itu sendiri adalah sebagai sesuatu yang memiliki ciri khusus yang penting. Pertama, tanda harus dapat diamati, dalam arti tanda itu dapat ditangkap. Kedua, tanda harus menunjuk pada sesuatu yang lain. Artinya bisa menggantikan, mewakili dan menyajikan. Tanda dan hubungan-hubungannya adalah kunci dari analisis semiotik. Dimana relasi tersebut kemudian memunculkan makna.
Teori Saussure sebenarnya berkaitan dengan pengembangan teori linguistik secara umum, maka istilah-istilah yang dipakai (oleh para penganutnya pun) untuk bidang kajian semiotic meminjam dari istilah-istilah dan model linguistic. Bahasa sebagai sebuah system tanda, menurut Saussure, memiliki dua unusr yang tak terpisahkan: signifier dan signified, signifiant dan signifie, penanda dan petanda. Wujud significant( penanda) dapt berupa bunyi-bunyi ujaran atau huruf-hurf tulisan, sedang signifie (petanda) adalah unsure konseptual, gagasan atau makna yang terkandung dalam penanda tersebut (Abrams dalam Nurgiantoro, 2009).
Dalam teori Saussure, walau keduanya dapat disebut sebagai dwitunggal, hubungan antara penanda dan petanda bersifat arbitrer. Artinya, hubungan antar wujud formal bahasa dengan konsep atau acuanya, bersifat semuanya berdassarkan kesepakatan social.


C. METODE PENELITIAN
Untuk mengkaj stilistika novel diperlukan teori dan metode yang mampu mengungkapkan tanda-tanda tersebut. Dalam pengkajian novel Saman karya Ayu Utami meliputi lima aspek yaitu gaya kata (diksi), bahasa figurative, gaya kalimat, dan citraan. Setelah itu dilanjutkan dengan pengungkapan makna stilistika novel Saman karya Ayu Utami dengan memanfaatkan teori semiotic.
Objek penelitian ini adalah stilistika novel Saman karya Ayu Utami yang akan dikaji dengan teori semotik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yakni data yang disajikan berupa kata verba yang terdiri atas gaya kata, gaya kalimat, dan citraan serta dalam bentuk wacana yang terkandung dalam novel Saman karya Ayu Utami.
Kajian ini dimulai dengan pendeskripsian berbagai fenomena kabahasaan sebagai wujud stilistika novel Saman karya Ayu Utami dengan menggunakan latar belakang, fungsi, dan tujuan pemanfaatan stilistika dalam novel Saman karya Ayu Utami. Selanjutnya, analisis makna dilakukan dengan menggunakan metode pembacaan model semiotic.




D. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Latar Sosiohistoris Ayu Utami
Kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam novel dihidupkan oleh tokoh-tokoh yang ditampilkan inilah, seorang pengarang melukiskan kehidupan manusia dengan persoalan-persoalan atau konflik dengan orang lain ataupun konflik yang terjadi dengan dirinya sendiri. Pengarang memegang peranan penting dalam penciptaan watak tokoh yang dilukiskannya dalam karya sastra.
Dalam karya sastra, setiap kata memilikik tautan emotif, moral, atau ideologis potensi bahasa yang ekspresif dan emotif sifatanya yang ditambahkan dalam penyajian gagasan yang netral dan sifatnya opsional, manasuka. Dalam aplikasinya, pemanfaatan gaya bahasa dalam karya sastra sangat bergantung kepada individuasi sastrawan yang dipengaruhi oleh latar sosiohistoris masing- masing. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa gaya bahasa itu bersifat pribadi atau yang mencerminkan orangnya.
Ayu Utami lahir di Bogor, 21 November 1968, besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas sastra Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan di Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutup Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memperotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal pemberdayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Karena Karyanya meluaskan batas menulis dalam masyarakatnya, ia mendapat Prince Clause Award pada tahun 2000.
Dalam novel Saman, Ayu Utami sebagai pengarang mencoba memberikan gambaran mengenai realitas kehidupan dengan berbagai macam persoalan yang terjadi pada kehidupan manusia modern. Ayu Utami adalah salah seorang pengarang yang tergabung dalam komunitas Utan Kayu. Ia menampilkan tokoh wanita yang cukup banyak jumlahnya dalam novel yang ia tulis. Demikian juga pelukisan watak yang disandang oleh tokoh tersebut, sehingga tokoh ini mencerminkan dan mempunyai kemiripan dengan kehidupan manusia yang sesungguhnya dibandingkan dengan novel-novel lainnya. Demikian pula dengan tokoh wanitanya sangat mewakili kehidupan para wanita zaman sekarang ini sehingga sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam.
Novel Saman (KPG: 1998) memenangkan lomba sayembara roman terbaik Dewan kesenian Jakarta 1998 dan telah dicetak ulang 28 kali serta sudah diterjemahkan dalam enam bahasa asing. Karyanya yang berjudul Saman diawali oleh sebuah fragmen yang ditulisnya dengan judul Laila Tak Mampir di New York. Novel Saman mendapatkan penghargaan Prince Clause Award, dari Belanda pada tahun 2000, karena dianggap memperluas batas cakrawala sastra Indonesia. Ia juga menerima penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara pada tahun 2008. Dalam masyarakat timur novel Saman banyak mengundang tanggapan, khususnya kontroversi masalah seksualitas yang diungkapkan dalam novel tersebut. Novel Saman membicarakan tentang organ tubuh wanita yang paling intim serta membicarakan masalah seksual, khususnya pada bagian tokoh-tokoh wanita.

2. Stilistika novel Saman karya ayu utami dan pemaknaannya
Pada tahap pertama akan dikaji stilistika novel “Saman” karya Ayu Utami yang dibagi dalam lima aspek yaitu gaya kata (diksi), bahasa figurative, gaya kalimat, dan citraan. Setelah itu dilanjutkan dengan pengungkapan makna stilistika novel Saman karya Ayu Utami dengan memanfaatkan teori semiotic.

a. Gaya Kata (Diksi)
Dalam karya sastra terdapat banyak diksi antara lain kata konotatif, konkret, kata sapaan khas dan nama diri, kata seru khas jawa, kata serapan, kata asing, arkaik (kata yang sudah mati dihidupkan lagi), kata vulgar, kata dengan objek realitas alam, dan kosakata dari bahasa daerah Jawa, Sunda, Batak dan sebagainya.
Diksi dalam novel Saman karya Ayu Utami sangat variatif. Gaya kata dalam novel ini memanfaatkan kata-kata konotatif , kata asing serta kata-kata vulgar. Berikut adalah contoh diksi dalam novel Saman karya Ayu Utami:
1) Sebelum laut menghapus Hasyim Ali dari panca indera. Ia segera membuang muka, tak bisa lagi menikmati lidah-lidah ombak yang putih menyambar pasir (hal. 20).
2) Kami menjulukinya the girl who has everything (hal. 24)
3) Dan aku menamai keduanya puting karena merupakan ujung busung dadamu. Dan aku menamainya kelentit karena serupa kontol yang kecil (hal. 198).
4) Namaku Shakuntala. Ayah dan kakak perempuanku menyebutku sundal (hal. 118)

Pada data (1) merupakan kata konotatif, yaitu kata yang berubah dari makna dasarnya. Seperti pada kata membuang muka dan lidah-lidah ombak. Membuang muka yang artinya menghindar, dan lidah-lidah ombak, sebenarnya ombak tidak mempunyai lidah. Oleh Ayu Utami yang dimaksud lidah-lidah ombak disini adalah ombak yang ada di lautan.
Pada data (2), memanfaatkan diksi, menggunakan kata asing yaitu “the girl who has everything” yang artinya gadis yang memiliki segalanya. julukan itu diberikan kepada Yasmin yang memang memiliki segalanya, selain cantik, pintar dancerdas, baik hati, serta anak orang kaya. Ayu Utami melukiskan yasmin menggunakan bahasa asing “the girl who has everything” karena selain tokoh yang ada dalam novel ini para intelek atau berpendidikan, lataar dalam novel “saman” ada di luar negeri juga.
Pada data (3) adalah contoh kata-kata vulgar, yakni puting atau ujung buah dada dan kontol atau alat kelamin laki-laki. Pada data (4) juga merupakan contoh kata-kata vulgar, yaitu kata “sundal” (orang yang beberapa kali tidur dengan laki-laki dan perempuan). Sebagian besar dalam novel ini, pengarang menampilkan kata-kata vulgar. Pengarang menggunakannya untuk menarik minat pembaca.

b. Bahasa Figurative
Melalui bahasa figurative kajian stilistika novel Saman karya Ayu Utami menjadi lebih hidup dan ekspresif. Majaslah yang paling dominan dalam novel ini, yaitu majas metafora, metonimia, personifikasi, dan simile. Majas-majas tersebut oleh Ayu Utami digunakan untuk memperindah dan menghidupkan pengungkapan gagasan. Berikut terdapat contoh bahasa figurative novel Saman karya Ayu Utami:
5) Dari dekat ia tampan, seperti kayu resak tembaga yang terplitur, coklat keras berkilat (hal. 22.)
6) Dari ketinggian dan kejauhan, sebuah rig nampak seperti kotak perak ditengah laut lapis lazuli (hal. 7).
7) Kupandangi teman ku Laila, hatinya seumpama bawang merah: ketika ketegangan telah kelupas seperti kulit ari yang garing, terbukalah lapisan lain dibawahnya, yang panas memerahkan mata.

Pada data (5), data (6) dan data (7) memanfaatkan majas simile yang meggunakan pengandaian. Dalam data (5) pengarang mengandaikan seorang lelaki yang tampan dari dekat seperti kayu yang terplitur yang indah dan berkilat. Pada data (6) rig merupakan tempat yang sempit yang ada ditengah lautan . pada data (7) dalam hal ini pengarang mengandaikan hati Laila seperti bawang merah yang terkelupas dan membuat mata akan menangis, karena seperti kenyataannya bahwa saat mengupas bawang merah pasti mata terasa perih sehingga mengeluarkan air mata (nangis)

c. Gaya Kalimat
Gaya kalimat adalah penggunaan suatu kalimat untuk memperoleh efek tertentu, misalnya inverse, gaya kalimat tanya, perintah, elips. Karena dalam karya sstra pengarang memiliki kebebasan penuh dalam mengkreasikan bahasa (Licentia Poetica) guna mencapai efek tertentu, adanya bentuk penyimpangan struktur kalimat merupakan hal yang wajar.
Gaya kalimat yang digunakan dalam novel “Saman” karya Ayu Utami ini adalah gaya kalimat tanya, kalimat perintah, dan elipsis. Berikut adalah penggalan contoh gaya kalimat tersebut:
8) Tetapi dengan perempuan tak ada satu patah omongan kotornya keluar (hal. 25).
Pada data (8) menggunakan gaya kalimat elipsis, yaitu kata “tak”. Kata “tak” sebenarnya kata yang tidak baku, pembenaran kata “tak” ini adalah kata “tidak”. Pengarang memanfaatkan gaya kalimat elipsis (pemendekan kata) ini karena guna memperoleh efisiensi dalam kalimat
9) Daimana asalmu, anak baru?(hal. 123).
Pada data (9) banyak memanfaatkan gaya kalimat tanya, kalimat tanya tersebut adalah pertanyaan yang diberikan oleh guru kepada Wisanggeni atau Saman.

d. Citraan
Penciptaan citraan dalam karya sastra dilatar belakangi oleh realitas bahwa pada dasarnya gagasan yang ingin dikemukakan kepada pembaca melalui karyanya itu banyak dan padat. Adapun fungsi citraan adalah untuk membuat (lebih) hidup gambaran dalam penginderaan dan pikiran, menarik perhatian, dan membangkitakan intelektualitas dan emosi pembaca dengan cepat.
Pencitraan yang dimanfaatkan dalam novel Saman karya Ayu Utami adalah pencitraan penglihatan yang biasanya digunakan untuk melukiskan karakter tokoh dan untuk melukiskan keadaan, tempat, pemandangan atau bangunan. Serta citraan intelektual guna menghidupkan imajinasi pembaca atau penikmat novel melalui asosiasi-asosiasi logika dan pemikiran.
10) Namun, ia kerap bergabung dalam tim lembaga bantuan hukum untuk orang-orang yang miskin atau tertindas. Ia juga sudah mendapat izin advokat yang tak semua lawyer punya (hal. 24).
11) Kutahu New York adalah kota yang menakjubkan begitu aku masuk ke dalam kereta bawah tanah (hal. 143).
Data (10) menunjukkan sebuah citraan intelektual. Ayu Utami dalam menulis novel “Saman” tidak hanya banyak menceritakan tentang hal-hal percintaan, social ekonomi, dan seksualitas. Melalui citraan intelektual Ayu juga menyajikan pembaca dengan berpendidikan yang tinggi dan berhati dermawan seseorang dapat membantu orang-orang miskin yang tertindas. Hal ini penting karena dalam novel tersebut, Yasmin sebagai seorang pengacara tidak semata-mata mencari jabatan dan materi. Dia punya hati yang mulia yaitu membantu orang-orang miski yang hidupnya tertidas oleh orang diatasnya.
Citraan yang digunakan dalam data (11) menunjukikan citraan penglihatan. Dalam melukiskan keindahan kota New York yang ditempati para tokoh yang ada dalam novel “Saman”, Ayu Utami memberikan salah satu contoh adah sebuah kereta bawah tanah yang ada disana.


E. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengkajian stilistika novel “Saman” karya Ayu Utami dan pengkajian makna dengan pendekatan semiotic dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, pada gaya kata (diksi) terdapat diksi dalam novel Saman karya Ayu Utami sangat variatif. Gaya kata dalam novel ini memanfaatkan kata-kata konotatif , kata asing serta kata-kata vulgar . Kedua, Melalui bahasa figurative kajian stilistika novel Saman karya Ayu Utami menjadi lebih hidup dan ekspresif. Majaslah yang paling dominan dalam novel ini, yaitu majas metafora, metonimia, personifikasi, dan simile. Majas-majas tersebut oleh Ayu Utami digunakan untuk memperindah dan menghidupkan pengungkapan gagasan. Ketiga, Gaya kalimat yang digunakan dalam novel “Saman” karya Ayu Utami ini adalah gaya kalimat tanya, kalimat perintah, dan elipsis. Keempat, Pencitraan yang dimanfaatkan dalam novel Saman karya Ayu Utami adalah pencitraan penglihatan yang biasanya digunakan untuk melukiskan karakter tokoh dan untuk melukiskan keadaan, tempat, pemandangan atau bangunan. Serta citraan intelektual guna menghidupkan imajinasi pembaca atau penikmat novel melalui asosiasi-asosiasi logika dan pemikiran.



F. DAFTAR PUSTAKA
Al Ma’ruf, Ali Imron. 2009. Stilistika Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Surakarta: Cakra Books.
Meta. 2011. Sinopsis Novel Saman. Dalam http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sastra-indonesia/article/view/74. Diakses tanggal 06 Juli 2011.
Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Utami, Ayu. 2010. Saman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Selasa, 10 Mei 2011

Darah Garuda

RESENSI FILM DARAH GARUDA

Sutradara : Yadi Sugandi dan Conor Allyn
Penulis Skenario : Conor Allyn dan Rob Allyn
Editor : Sastha Sunu
Pemain : Dony Alamsyah (Tomas), Rahayu Sasraswati (Senja), Lukman Sardi (Amir), T. Rifnu Wikana (Dayan), Darius sinathrya (Marius), Rudi Wowor (Mayor Van Gaartner), Ario Bayu (Sersan Yanto), Aldy Zulfikar (Budi)
Produksi : PT Media Desa Indonesia bekerjasama dengan Margate House Films

Setelah film pertamanya Merah Putih sukses pada tahun 2009, film kedua dari Merah Putih ini adalah Darah Garuda. Film documenter yang dirilis pada tanggal 8 September 2010 ini mengisahakan tentang pejuang dari berbagai daerah di Republik Indonesia, dan berbagai kelas social dan berbagai agama pula. Para pejuang- pejuang yang tangguh ini diperankan oleh Lukman Sardi, Dony Alamsyah, Rahayu Saraswati, T. rifnuWikana, Darius Sinathrya, dan Aldy Zulfikar.
Tahun 1945, bagi dunia perang sudah berakhir. Namun untuk Indonesia, baru dimulai. Tahun 1946 Kerajaan Belanda kembali menjajah. Jendral Sudirman terkapar sakit paru- parunya sambil memimpin perang dari tandunya. Juni 1947 Vaan Mook memerintahkan serangan dan mengiring tawanan ke kampong- kampong. Sekali lagi kali ini Belanda menjadi raja dari Hindia.
Peristiwa ini terjadi di sebuah hutan di Jawa Tengah pada tahun 1947. Seorang TNI yang bernama Amir (yang diperankan oleh Lukman Sardi) yang diangkat sebagai kapten dan teman- temannya yang lainnya Tomas, Dayan dan Marius sebagai Letnan. Keempat pemuda itu bertekad untuk menyerang sebuah kampung yang dijadikan oleh Belanda sebagai tempat tawanan para perempuan. Setelah berhasil menyelamatkan para perempuan tersebut, keempat pemuda itu langsung mencari pasukan Jendral Sudirman untuk melancarkan akasinya.